Bupati Cianjur H. Irvan Rivano Muchtar, S.IP,SH, M.Si Jum?at malam kemarin menghadiri acara Workshop Mamaos Dewan Kesenian Cianjur di Taman Pancaniti Cianjur. Dan dihadiri H. Yanto, kabid kebudayaan dan pariwisata,Ketua DKC, Dedi Mulyana, S.Pd.I, ketua Karang Taruna Kab. Cianjur, H. Roni Setiawan, D. Andri Kertanegara, SH (ketua padepokan (Pancaniti) H. Iwan Rio Mustofa, SE, MM (ketua Paguyuban Sundawani) serta para tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya Bupati Cianjur menyampaikan seni mamaos atau lebih dikenal dengan seni tembang sunda Cianjuran atau juga merupakan seni budaya tradisional peninggalan nenek moyang dahulu yakni R.A.Akusumaningrat (Dalem Pancaniti) seorang dalem/bupati yang telah menjabat di Cianjur pada tahun 1834?1862, pada pase yang lampau seni mamaos itu mengalami masa kejayaan yang panjang. Alunan musik yang khas dan “hariring” yang membuat bulu kuduk merinding. Lantunan kecapi yang dipadukan dengan harmonisasi suara seruling dan suara sinden yang merdu. Apabila filosofi tersebut diresapi, pada hakekatnya merupakan symbol rasa yang ingin dicapai adalah terciptanya keimanan dan ketaqwaan masyarakat melalui pembangunan akhlak yang mulia. Dengan kebudayaan, masyarakat Cianjur ingin mempertahankan keberadaannya sebagai masyarakat yang berbudaya, memiliki adab, tatakrama dan sopan santun dalam tata pergaulan hidup.

Lanjut bupati menginginkan bahwa seni mamaos/tembang sunda Cianjuran itu kedepan bangkit, bisa diterima oleh semua kelompok masyarakat, bila saat ini sebagian banyak minat masyarakat pada musik kekinian, tak ada salahnya jika seni mamaos/tembang sunda Cianjuran itu di kolaborasikan dengan musik-musik kekinian, tetapi yang menjadi ciri khasnya suling,kecapinya tidak hilang. Intinya seni mamaos ini jangan sampai punah, melainkan harus kembali Berjaya.

Terakhir bupati berharap, dengan workshop diselenggarakan itu akan adanya dayung bersambut antar pegiat seni mamaos, khususnya Dewan Kesenian Cianjur harus mampu mengakomodir pada tiap?tiap wilayah di kecamatan dan desa, selain itu juga dapat terkoneksi dengan jajaran pendidik, baik itu pendidikan yang sifatnya formal ataupun informal, sehingga pendidikan seni mamaos ini dapat diperkenalkan khususnya pada peserta didik, jika sudah dikenali semoga akan diminati, dicintai kemudian merasa memiliki. Terlebih seni mamaos/tembang sunda Cianjuran dituntut mampu menjawab ledakan jiwa yang menyebabkan keringnya jiwa, gelisah dan jauh dari rasa damai, juga tidak hanya bisa melihat/memainkanya saja, namun juga dengan seni mamaos itu dapat menempatkan seni mamaos bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita, kaitannya dengan kebutuhan psikologi (kejiwaan).

Sementara itu Ihsan Subhan panitia pelaksana kegiatan workshop seni mamaos menjelaskan, sedikitnya ada 96 orang yang mengikuti kegiatan dari 32 Kecamatan dari masing masing Kecamatan ada 3 orang guru. Adapun waktu pelaksanaannya 1 hari, dari 13.00 s/d 21.30.Wib. Narasumber dari akademisi kesenian tradisional Dr. Yus Wiradredja S.Kar , M.Hum, sejarah mamaos Cianjuran, Dr. Drs, Heri Herdini, M.Hum, Estetika Cianjuran, Dr. Drs. Deni Hermawan, MA, Kedudukan Mamaos Cianjuran,(humas/tim mc kab. cianjur)