Dewasa ini berkembangnya penyakit zoonosis yang menyebabkan kematian pada manusia. Penyakit ini menular secara alamiah dari hewan ke manusia. Untuk mengantisipasi merebaknya wabah zoonosis diperlukan pemahaman secara menyeluruh mengenai penyakit atau infeksi tersebut. Selain itu adanya kerjasama lintas sektor yang dapat memutuskan rantai penyebab timbulnya zoonosis. Salah satu upaya untuk mencegah penularan penyakit zoonosis adalah dengan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian masyarakat terhadap penyakit-penyakit zoonosis strategis melalui sosialisasi.

Zoonosis dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui beberapa cara, yaitu kontak langsung dengan hewan pengidap zoonosis dan kontak tidak langsung melalui vektor atau mengonsumsi pangan yang berasal dari ternak sakit, atau melalui aerosol di udara ketika seseorang berada pada lingkungan yang tercemar (Suharsono 2002; Nicholas dan Smith 2003). Penyakit yang diderita ternak selama pemeliharaan dapat menular ke manusia melalui konsumsi bahan pangan asal ternak tersebut. Berbagai penyakit ternak saat ini sedang berjangkit di beberapa daerah di Indonesia

Zoonosis pada manusia dan hewan merupakan kendala dalam usaha peternakan dan kesehatan manusia. Penyakit ini harus mendapat perhatian yang serius dari lembaga terkait untuk menekan penyebarannya. Beberapa kasus zoonosis di Indonesia diduga karena tertular ternak atau hewan kesayangan. Hal ini menuntut kerja sama yang sinergis antara dokter hewan dan dokter manusia, termasuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat, terutama pada daerah endemis.

Oleh karena itu, perkembangan dunia saat ini mengarah kepada pentingnya konsep baru ‘one world, one medicine, one health’ untuk diperkenalkan secara luas dan berkesinambungan. Beberapa pakar negara menghimbau kerjasama yang lebih terintegrasi dan sinergis antara dokter hewan dan dokter dalam mengantisipasi kebangkitan penyakit-penyakit zoonosis yang berpotensi epidemik. Sampai saat ini kedokteran dan kedoteran hewan dipandang sebagai sektir dan identitas yang terpisah di hampir semua negara. Meskipun pada kenyataannya, ada banyak hal-hal yang tumpang tindih antara kedua sektor ini, terlebih lagi apabila menyangkut kesehatan masyarakat dan pengendalian penyakit-penyakit yang bisa ditularkan ke manusia (zoonosis).

konsep ‘one health’ adalah suatu gerakan untuk menjalin kemitraan antara dokter dan dokter hewan yang harus disepakati oleh berbagai pihak, baik organisasi medik kesehatan, kesehatan hewan maupun kesehatan masyarakat. Konsepsi ‘one health’ sudah ada sejak berabad-abad, akan tetapi kolaborasi semakin diperlukan di abad ini. Kedokteran hewan memiliki akarnya pada kesehatan manusia. Penyembelihan ternak sebagai salah satu jalan untuk mengendalikan PMK atau rinderpest, penyakit yang sangat ganas pada sapi, dimulai pada abad ke-18 sebagai jalan untuk melindungi suplai pangan. Lonie J. King (2008), seorang pakar epidemiologi mengatakan: Kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat adalah suatu rangkaian kesatuan (continuum); kita tidak harus melihatnya sebagai sistem terpisah. Sebenarnya dalam konsep tersebut tidak hanya merangkul beberapa sektor bidang medis saja melainkan sektor lain yang berhubungan dengan lingkungan bahkan lalulintas. Oleh karena itu mulai sekarang untuk memberantas zoonosis berkembang semua aspek dijalankan tanpa memandang tugas siapa. Semua berperan penting dalam pemberantasan penyakit ini.

Kemudian bagaimana Upaya untuk mencegah penularan penyakit zoonosis pada manusia diantara dapat dengan mensosialisasikan gejala klinis awal penyakit zoonosis di peternakan atau rumah potong hewan dan sesegera mungkin melaporkan dan mengambil tindakan terhadap ternak maupun pekerja yang tertular penyakit, memantau kesehatan ternak dan tata laksana peternakan di tingkat peternak, menjaga kebersihan dengan mencuci tangan sebelum mengolah pangan setelah memegang daging mentah, menangani karkas atau mengurus ternak, memasak dengan benar daging sapi, daging unggas, dan makanan laut serta menghindari mengonsumsi makanan mentah atau daging yang kurang masak, Menjaga makanan agar tidak terkontaminasi hewan piaraan atau serangga, menggunakan sarung tangan bila berkebun, menghindari feses kucing saat menyingkirkan bak pasir yang tidak terpakai, Jika tergigit anjing atau kucing, segera mencuci luka bekas gigitan dengan sabun di bawah kucuran air mengalir selama 10-15 menit agar dinding virus yang terbuat dari lemak rusak oleh sabun dan segera ke dokter atau ke rumah sakit untuk mendapat vaksinasi

Oleh. Drh. Fida Prawita (THL Medik Veteriner,UPTD Puskeswan Sukanagara)